Tragedi Wang Fuk Court Guncang Hong Kong: Tradisi Perancah Bambu Terancam Berakhir

  


Jakarta, penanuswantara.online  — Perancah bambu selama puluhan tahun menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah konstruksi di Hong Kong. Struktur bambu yang terikat rapi itu dikenal ringan, kuat, serta mudah dibentuk mengikuti ruang sempit kota padat penduduk tersebut. Penggunaannya bahkan telah lama dianggap sebagai ikon arsitektur Hong Kong.

Namun, tradisi yang bertahan sejak era Tiongkok kuno itu kini berada di ujung tanduk. Pemerintah Hong Kong tengah mengkaji ulang seluruh standar penggunaan perancah bambu setelah insiden kebakaran besar melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court, yang berisi hampir dua ribu unit hunian.

Warisan Kuno yang Bertahan di Kota Modern

Menurut laporan Reuters, Jumat (28/11/2025), penggunaan bambu sebagai perancah berasal dari Tiongkok, tempat bahan tersebut melimpah dan telah menjadi fondasi arsitektur sejak zaman kuno. Bahkan, bambu disebut-sebut dipakai dalam pembangunan Tembok Besar Tiongkok.

Hong Kong menjadi salah satu wilayah terakhir yang masih mengandalkan bamboo scaffolding, ketika negara lain sudah beralih menggunakan logam dan besi. Tercatat sekitar 2.500 ahli perancah bambu masih bekerja di sektor ini berdasarkan data resmi.

Selain fleksibel, bambu juga dapat dipasang dengan cepat. Namun, sifatnya yang mudah terbakar dan rentan rusak dalam jangka panjang mulai menuai kekhawatiran.

Rangkaian Insiden dan Evaluasi Ulang Pemerintah

Kebakaran di Wang Fuk Court hanyalah puncak dari serangkaian insiden serupa. Data Departemen Tenaga Kerja Hong Kong yang dikutip CNN mencatat 24 kematian terkait kecelakaan perancah bambu antara Januari 2018 hingga Agustus 2025.

Pemerintah sebelumnya juga telah mengeluarkan kebijakan pembatasan. Bloomberg mencatat bahwa pada Maret 2025, pemerintah menginstruksikan setengah dari proyek publik baru wajib menggunakan perancah logam karena risikonya yang lebih kecil terhadap kebakaran dan kerusakan.

Kebijakan itu ditentang keras para pekerja perancah bambu. Mereka beralasan bahwa masalah utama bukan pada material bambu, melainkan praktik keselamatan yang tidak dijalankan dengan ketat. Selain itu, kekhawatiran kehilangan pekerjaan dan hilangnya tradisi lokal turut memperkeruh polemik.

Kebakaran Dahsyat Wang Fuk Court

Apartemen Wang Fuk Court—kompleks berlantai 31 dengan delapan tower—sedang menjalani renovasi ketika kebakaran terjadi pada Rabu (26/11/2025). Seluruh bangunan ditutupi perancah bambu yang dibungkus jaring hijau pelindung, kombinasi yang mudah tersambar api.

Departemen Tenaga Kerja Hong Kong mengungkapkan telah melakukan 16 kali pemeriksaan sejak proyek renovasi dimulai pada Juli 2024. Keluhan warga tentang masalah perancah sudah masuk sejak September tahun yang sama. Peringatan mengenai potensi kebakaran juga disampaikan, namun kontraktor mengklaim seluruh pemasangan telah mengikuti standar keselamatan.

Api cepat merambat dari satu tower ke tower lainnya akibat tiupan angin kencang dan sifat material bambu serta jaring yang mudah terbakar.

Proses pemadaman berlangsung selama 27 jam. BBC melaporkan, hingga Jumat (28/11/2025):

  • 900 warga dievakuasi

  • 128 orang meninggal dunia

  • 76 orang terluka, termasuk 11 petugas pemadam

  • 300 orang masih hilang

Tragedi ini menjadi salah satu insiden konstruksi paling mematikan dalam sejarah Hong Kong modern.

Masa Depan Perancah Bambu di Hong Kong Dipertanyakan

Setelah peristiwa ini, pemerintah menyatakan akan memeriksa seluruh proyek yang masih menggunakan perancah bambu dan mempertimbangkan larangan total.

Tradisi yang selama berabad-abad melekat pada identitas kota itu kini berada dalam persimpangan: mempertahankan warisan atau beralih penuh menuju material modern demi keselamatan publik.(RED.AL)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama