JAKARTA, penanuswantara.online – Gelombang kepindahan perusahaan keuangan besar dari New York City ke Texas kian masif menyusul terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York. Sosok politikus Sosialis Demokrat itu dianggap sebagai ancaman baru bagi stabilitas sektor finansial di pusat ekonomi Amerika Serikat tersebut.
Mamdani, yang juga menjadi Muslim pertama yang menduduki jabatan Wali Kota New York, dikenal dengan kebijakan ekonomi yang menekankan kenaikan pajak bagi kalangan kaya dan korporasi besar, serta memperketat aturan di sektor keuangan dan properti.
Salah satu rencananya adalah menambah pajak penghasilan sebesar 2% bagi individu dengan pendapatan di atas US$1 juta (sekitar Rp16,7 miliar) per tahun. Kebijakan tersebut diperkirakan dapat menambah pendapatan daerah hingga US$5 miliar (sekitar Rp83,5 triliun) setiap tahunnya.
Namun, langkah itu menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan pelaku industri finansial. Banyak di antara mereka menilai kebijakan tersebut dapat mengikis margin keuntungan serta memperburuk iklim investasi di kota yang selama ini dikenal sebagai jantung ekonomi global.
“Perpindahan ini sudah mulai terjadi, dan dengan kebijakan baru itu, prosesnya hanya akan makin cepat,” ujar Philip Blancato, CEO Ladenburg Thalmann Asset Management, dikutip dari The Telegraph, Minggu (9/11/2025).
Sejumlah perusahaan investasi, perbankan, hingga hedge fund pun dilaporkan telah memindahkan operasionalnya ke Austin dan Dallas, Texas, yang menawarkan iklim pajak lebih ramah dan biaya hidup lebih rendah.
Texas Jadi Magnet Baru Dunia Keuangan
Texas kini mulai tampil sebagai pusat ekonomi alternatif bagi para pelaku finansial. Dalam lima tahun terakhir, lapangan kerja di sektor keuangan Texas bertambah lebih dari 100.000 posisi, sementara di New York hanya tumbuh sekitar 19.000.
Pajak menjadi faktor pendorong utama. Di New York City, pasangan menikah dengan penghasilan di atas US$2,15 juta bisa menghadapi tarif pajak gabungan hingga 13,5%, bahkan mencapai 14,8% bagi mereka yang berpenghasilan lebih dari US$25 juta.
Sebaliknya, Texas tidak mengenakan pajak penghasilan negara bagian maupun kota, menjadikannya tujuan ideal bagi investor dan eksekutif kelas atas.
“Sulit mempertahankan status sebagai ibu kota keuangan dunia jika kebijakan kota justru memusuhi kapitalisme,” kata Furlow, salah satu analis pasar Amerika. “New York dan San Francisco telah kehilangan daya saing karena beban pajak dan biaya hidup yang tinggi.”
Dengan kondisi ini, citra Texas yang dulunya identik dengan “koboi dan ladang minyak” kini perlahan bergeser menjadi pusat bisnis modern dan inovatif, menggantikan peran New York sebagai magnet finansial global.(red.al)
Posting Komentar