Desa Tanon Kediri, Potret Toleransi Antarumat Beragama yang Hidup dalam Harmoni

  


KEDIRI,  penanuswantara.online – Desa Tanon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman agama dapat hidup berdampingan dalam suasana penuh kedamaian. Warga dari berbagai keyakinan—Islam, Hindu, Katolik, hingga Kristen—menjalani kehidupan sosial dengan saling menghormati dan menjadikan toleransi sebagai bagian dari budaya sehari-hari.

Pemerintah Desa Tanon secara rutin menggelar kegiatan yang bertujuan memperkuat kebersamaan antarwarga lintas agama. Salah satu agenda yang selalu dinanti adalah doa bersama di malam perayaan Hari Kemerdekaan, di mana seluruh warga berkumpul di jalan Dusun Payak untuk berdoa dan bersyukur bersama.

“Kegiatan ini digelar untuk mempererat hubungan antarwarga sekaligus menanamkan semangat persatuan,” jelas Achmad Safi’i, Sekretaris Desa Tanon.

Menurut Safi’i, masyarakat Tanon telah lama hidup dalam suasana saling menghargai tanpa mencampuradukkan urusan keagamaan. Setiap warga diberi kebebasan penuh untuk menjalankan keyakinannya, tanpa gangguan atau diskriminasi dari pihak mana pun.

“Di Tanon, perbedaan bukan alasan untuk berjarak. Kami justru menjadikannya kekuatan,” tambahnya.

Salah satu bentuk nyata keharmonisan itu terlihat dalam perayaan Nyepi. Setiap tahun, warga Desa Tanon menggelar Festival Ogoh-Ogoh dengan semangat gotong royong. Menariknya, tidak hanya umat Hindu yang terlibat, tetapi seluruh warga dari berbagai agama ikut berpartisipasi—mulai dari membantu persiapan hingga menjaga keamanan saat perayaan berlangsung.

“Saat Nyepi, warga Muslim dan Katolik turut menjaga ketertiban. Bahkan ada yang ikut menjadi pecalang bersama umat Hindu,” ujar Safi’i.

Festival Ogoh-Ogoh menjadi tradisi yang terus dilestarikan, bahkan ketika pandemi Covid-19 melanda. Meski skalanya sempat dibatasi, kegiatan ini tetap dilaksanakan dengan penuh antusiasme.

Tak hanya saat Nyepi, kebersamaan antarumat beragama juga terlihat di momen Idul Fitri. Dalam kegiatan takbir keliling, umat non-Muslim turut hadir dan membantu pelaksanaannya, memperlihatkan bahwa nilai toleransi dan solidaritas telah mengakar kuat di masyarakat Desa Tanon.

“Inilah kekayaan sosial yang patut dijaga. Di Tanon, perbedaan agama bukan penghalang untuk bersatu, tapi justru pengikat persaudaraan,” tutup Safi’i.(red.al)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama