BANDUNG, kupasfakta.online — Niat berlibur murah berubah menjadi aksi kriminal berdarah. Seorang pria berinisial HJ, warga Pekalongan, Jawa Tengah, ditangkap polisi setelah menembak seorang lansia di sekitar kawasan Asrama Polisi (Aspol) Polrestabes Bandung, Jalan Sukajadi, Kota Bandung.
Peristiwa ini bermula dari transaksi emas palsu yang berujung kejar-kejaran, cekcok, dan akhirnya letusan senjata. Fakta ini menambah daftar panjang kejahatan dengan modus penipuan yang bereskalasi menjadi kekerasan bersenjata.
Dari Liburan Murah ke Kejahatan Mahal
HJ mengakui bahwa dirinya bersama sang istri telah tiga hari berlibur di Bandung. Namun, kehabisan uang membuatnya mengambil jalan pintas: menjual emas miliknya kepada seorang pedagang lansia.
Transaksi pun terjadi. Uang Rp 5 juta berpindah tangan. Namun, emas yang dijual ternyata palsu.
Merasa ditipu, korban berupaya mengejar pelaku. Di titik inilah situasi memanas. Adu mulut tak terelakkan, dan dalam sekejap, HJ melepaskan tembakan menggunakan senjata yang dibawanya.
Korban pun tersungkur dan harus mendapat perawatan medis.
“Booking hotel untuk tiga hari. Cuman mau liburan aja karena harganya murah,” ujar HJ tanpa ekspresi penyesalan saat dihadirkan di Mapolrestabes Bandung, Kamis (25/12/2025).
Airsoft Gun, ‘Jaga-jaga’ yang Berujung Petaka
Kepada penyidik, HJ mengaku telah memiliki airsoft gun selama enam bulan. Senjata tersebut ia bawa dari Pekalongan ke Bandung dengan alasan klasik: untuk berjaga-jaga.
“Airsoft tadinya udah ada 6 bulanan di saya buat jaga-jaga,” katanya.
Namun, dalih “jaga-jaga” justru berubah menjadi alat kekerasan nyata, menegaskan bahwa senjata—apa pun jenisnya—di tangan yang salah hanya menunggu waktu untuk meledak.
Jeratan Hukum Berlapis
Kini, HJ harus menghadapi konsekuensi hukum berat. Polisi menjeratnya dengan sejumlah pasal sekaligus:
Pasal 372 KUHP tentang Penipuan
Pasal 170 KUHP tentang Penganiayaan
Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api
Total ancaman hukuman di atas lima tahun penjara, membuka peluang hukuman berat mengingat korban adalah lansia dan lokasi kejadian berada di area sensitif sekitar asrama polisi.
Catatan Keras untuk Publik
Kasus ini menjadi peringatan bahwa kejahatan tidak selalu direncanakan matang—kadang lahir dari tekanan ekonomi, kesempatan, dan keberanian sesaat yang berujung tragedi.
Liburan yang diniatkan untuk bersenang-senang, justru berakhir di balik jeruji besi.
Emas palsu boleh ringan, tapi peluru dan hukum tidak pernah main-main.

Posting Komentar